Gunung Gamalama (+1.715 mdpl) adalah gunungapi aktif yang masih sering mengalami aktivitas erupsi. Hal ini membuat masyarkat Pulau Ternate was was ketika aktivitasnya Gamalama meningkat. Bagaimana tidak, Pulau Ternate benar-benar merupakan sebuah pulau gunungapi yang muncul dari dasar laut dan karena sumber daya alam yang melimpah, membuat banyak orang tergiur untuk tinggal di tubuh gunungapi ini. Gunungapi yang berdiri gagah ini mendampingi masyarakat di pulau yang memiliki jari-jari sekitar kurang dari 6,5 km, jarak yang teramat dekat dan beresiko tinggi terhadap keselamatan masyarakat yang hidup sekitarnya.

Gunung Gamalama terletak pada koordinat 010 48’ LS dan 1270 19,5’ BT serta berada di tengah luas daratan sebesar 250,85 kilometer persegi dan luas wilayah laut sebesar 5.547,55 kilometer persegi. Gunungapi ini berada pada ketinggian 1.690 m di atas kota Ternate mulai dari bibir pantai Ternate. Terdapat dua morfologi utama gunungapi ini, yakni geomorfologi kaki gunung dan geomorfologi tubuh serta puncak gunung. Morfologi kaki gunung merupakan area datar yang melampar memanjang sejajar pantai dengan jenis batuan penyusunnya berupa batuan vulkanik jenis tufa, sedangkan morfologi tubuh dan puncak gunung tersusun oleh produk gunungapi holosen yang terdiri atas breksi vulkanik, lava andesit, pasir dan tufa.

Geologi Gunung Gamalama

Gunungapi Gamalama terletak pada zona penunjaman miring ke timur dengan sudut yang kecil sehingga aktivitas vulkanisme sangat aktif. Terdapat satu kawah aktif Gamalama yang tumbuh dalam suatu zona graben dengan arah relatif baratlaut-tenggara. Keberadaan Maar Tolire Besar dan Tolire Kecil yang merupakan danau yang terbentuk sebagai hasil dari erupsi samping dikontrol oleh suatu kelurusan struktur yang memotong puncak Gamalama dengan arah relatif barat laut-tenggara.

Maar Tolire Jaha terletak pada lereng baratlaut Gamalama Muda. Berukuran 500 x 700 meter persegi dan dengan kedalaman 80 m. Sedangkan Maar Tolire Kecil terletak kurang lebih 250 m di sebelah utara Tolire Jaha. Berukuran 150 x 300 meter persegi dengan kedalaman antara 5 – 10 m. Kedua kawah maar ini berisi air tawar dengan tinggi permukaan air hampir sama dengan muka air laut dan berair sepanjang tahun (Bronto dkk. 1982).

Kawah aktif gunung gamalama berada pada bagian Gamalama Muda (Gm) terletak pada 01o 48’ LS dan 127o 19,5’ BT menempati bagian utara Pulau Ternate dengan puncak tertingginya bernama Gunung Arfat atau Piek van Ternate (+1715 m). Tubuh gunungapi ini memiliki lereng curam, karena belum mengalami erosi lanjut dan proses sedimentasi dari produk kegiatan kerucut aktif gunungapi muda ini masih berlangsung. Bentang alam gunungapi muda ini umumnya dibentuk oleh leleran lava yang berasal dari kawah aktif Gamalama Muda yang berdiameter kurang-lebih 200 m. Di dalam kawah aktif ini banyak terdapat solfatara bersuhu tinggi dengan temperatur mencapai lebih dari 1000C.

Danau Tolire (sumber: gambarwisata.com)
Danau Tolire (sumber: gambarwisata.com)

Sejarah Letusan

Dalam sejarah kegiatan gunungapi Gamalama tercatat lebih dari enam puluh kali erupsi dimulai tahun 1538. Hingga tahun 1770 interval letusannya selalu panjang, rata-rata lebih dari sepuluh tahun, tetapi sejak tahun 1771 sampai dengan tahun 1994 interval letusannya selalu pendek dengan masa istirahat antara 1–2 tahun. Letusan Gunung Gamalama pada umumnya berlangsung hampir selalu magmatik, kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 terjadi di lereng timur (letusan samping). Hasil erupsi Gunungapi Gamalama biasanya bersifat magmatik dengan semburan material pijar berukuran bongkah (bomb), kerikil, pasir dan abu vulkanik, baik diikuti ataupun tanpa leleran lava. Terkadang terdapat pula awan panas letusan seperti yang terjadi pada 31 Juli 2003.

Karakteristik Aktivitas Erupsi Gunung Gamalama

Tipe letusan Gunung Gamalama umumnya adalah tipe vulkano sampai stromboli dengan erupsi freato-magmatik sampai magmatik disertai lontaran-lontaran bom volkanik berstruktur ‘kerak roti’ dan terkadang diakhiri oleh adanya leleran lava. Prekursor seismisitas menjelang erupsi biasanya akan didahului oleh gempa tektonik yang terasa beberapa hari sebelumnya. Beberapa kasus juga adanya event rentetan gempa tektonik dan disusul dengan meningkatnya gempa vulkanik. Gempa tektonik dengan kekuatan lebih dari 4 SR akan memicu kantong fluida menjadi aktif yang kemudian disusul oleh meningkatnya gempa vulkanik.

Sistem pemantauan Gunung Gamalama dilakukan secara visual dan aktivitas kegempaan dipantau kontinyu dari pos pengamatan. Secara visual, pengamatan dipantau dengan mengamati tinggi, warna, tekanan asap, dan arah penyebaran. Kegempaan diamati dengan seismometer yang ditransmisikan secara telemetri ke pos pegamatan dan direkam secara analog dan digital. Pemantauan deformasi dengan EDM (Electrooptical Distance Measurement). Pengamatan geokimia digunakan untuk mengetahui kandungan kimia lava. Metode geofisika yang dipakai hingga saat ini adalah metode self potential, geomagnetik dan metode lainnya.

Bahaya Erupsi Gunungapi Gamalama

Kerusakan erupsi dapat diakibatkan antara lain oleh emisi gas volkanik, hempasan letusan (explosive blasts), longsoran tubuh gunungapi (sector failure), aliran piroklastika (piroclastic flows), lahar (mudflows), aliran lava, atau jatuhan piroklastik termasuk hujan abu (tephra).
Besaran dan luasnya dampak erupsi ini tergantung dari karakteristik fisik dan kimiawi produk erupsi, durasi letusan, dan karakteristik lingkungan (flora-fauna) di sekitar gunungapi tersebut.

Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Gamalama dibagi menjadi 3 daerah, yaitu sebagai berikut :

  1. Kawasan Rawan Bencana I : Berpotensi terdampak lahar, banjir, perluasan awan panas, dan aliran lava
  2. Kawasan Rawan Bencana II : Berpotensi tedampak awan panas, aliran lava, guguran batu pijar dan aliran lahar
  3. Kawasan Rawan Bencana III : Berpotensi terlanda awan panas, lava, lontaran atau guguran batuan pijar

    Peta Rawan Bencana Pulau Ternate (sumber: lapan.go.id)
    Peta Rawan Bencana Pulau Ternate (sumber: lapan.go.id)

 

Bahaya Gerakan Tanah dan Longsor

Kondisi topografi lahan Kota Ternate adalah berbukit bukit dengan sebuah gunung berapi yang masih aktif dan terletak di tengah pulau Ternate. Pemukiman masyarakat secara intensif berkembang di sepanjang garis pantai pulau. Pulau Ternate memiliki kelerengan fisik terbesar diatas 40% yang mengerucut ke arah puncak Gunung Gamalama yang terletak di tengah-tengah pulau. Di daerah pesisir rata-rata kemiringan adalah sekitar 2% sampai 8%.

Jenis tanah didominasi oleh tanah regosol yang tersebar di Pulau Ternate, Pulau Moti, dan Pulau Hiri. Sedangkan jenis tanah rensina tersebar di Pulau Mayau, Pulau Tifure, Pulau Maka, Pulau Mano, dan Pulau Gurida.

Bahaya Gempabumi

Wilayah Kota Ternate berada pada interaksi tiga lempeng besar dunia, yakni lempeng Eurasia, Hindia- Australia, dan Pasifik. Zona pertemuan antara ketiga lempeng tersebut membentuk palung dengan kedalaman sekitar 4.500 – 7.000 m yang terkenal dengan nama zona tumbukan (subduksi). Disamping itu, daerah ini merupakan daerah yang dilewati Pacific Ring of Fire (rangkaian gunung berapi aktif di dunia). Kondisi ini menyebabkan wilayah Provinsi Maluku Utara rawan terhadap bencana gempa tektonik, gempa vulkanik, dan tsunami.

Demografi dan Pariwisata Pulau Ternate

Kota Ternate berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang Kota Ternate BWK I, BWK II, dan BWK III Tahun 2007-2016 menunjukkan 80% dari total jumlah penduduk Kota Ternate mendiami Pulau Ternate yang terkonsentrasi di Kecamatan Kota Ternate Utara dan Kota Ternate Selatan. Penduduk di pulau ini semakin bertambah seiring dengan berkembangnya perdagangan yang menjadikan Pelabuhan Pulau Ternate menjadi pelabuhan persinggahan untuk wilayah timur Indonesia.

Penduduk Pulau Ternate umumnya merupakan nelayan tradisional yang bermukim di sekitar pantai dan sebagian lainnya adalah petani yang bermukim di dataran tinggi. Penduduk yang bercocok tanam umumnya menanam tanaman jangka panjang, misalnya cengkeh, pala, kayumanis, kenari, dan kelapa, sedangkan tanaman jangka pendek ditanam sebagai usaha sampingan seperti palawija.

Selain itu, Ternate juga kaya akan tempat-tempat pariwisata, diantaranya;

  1. Jalur pendakian menuju puncak, yang terdiri dari 2 jalur utama : Jalur Maikubru dan Jalur Ake Tege-Tege.
  2. Benteng Pertahanan Portugis “Kasteel Oranjei” yang saat ini digunakan sebagai asrama tentara
  3. Kedatoni, Rumah Sultan Ternate
  4. Pohon Cengkeh Afo, pohon cengkeh tertua di dunia. Kabarnya, pohon ini sudah ada sejak zaman COV dan masih berporduksi hingga kini. Batangnya berdiameter lebih dari 10 m atau seukuran 4 pelukan orang dewasa. Pohon tersebut berada pada ketinggian 800 m, sekitar 2 km dari Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama di Marikrubu ke arah baratlaut.
  5. Maar Danau Laguna Tolire Kecil dan Tolire Jaha  hasil erupsi freatik tahun 1.775
  6. Pantai Tanjung Sulamadha. Pantai ini akan memperlihatkan mata air panas dari celah batu karang.

 

Selamatkan Ternate!

Pulau Ternate, memang daerah strategis potensi bahaya, dan tak bisa dipungkiri bahwa penduduk yang tinggal di daerah tersebut tak bisa disalahkan, karena potensi sumber daya alam yang melimpah disana. Dengan keunikan geologinya, dan banyaknya penduduk yang hidup di pulau ini, sudah saatnya lah pemerintah dan ahli geologi serta peran serta masyarakat mengoptimalkan sepenuhnya skema upaya mitigasi bencana gunungapi, gempa bumi, longsor dan gerakan tanah untuk Pulau Ternate. Selain untuk meminimalisir kerugian yang akan ditimbulkan, hal ini dapat membuat masyarakat merasa aman untuk beraktivitas, dan merasa terawasi dan diperhatikan ketika alam mulai bergejolak.

Tindakan mitigasi ini untungnya sudah mulai dilakukan oleh pemerintah. Analisis bencana gunungapi, gempa bumi, dan longsor diolah menjadi satu proses faktor kerentanan wilayah satu daerah. Semakin tinggi nilai faktor kerentanan, semakin berbahaya daerah tersebut terhadap satu bencana yang akan terjadi. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kerentanan paling tinggi ada di kelurahan Moya dan Marikubru.

Dari hasil pemikiran tersebut, terlihat bahwa erupsi gunungapi Gamalama menjadi faktor bahaya tertinggi karena material yang dikeluarkannya. Oleh karena itu, upaya preventif yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kewaspadaan sebelum erupsi terjadi yaitu sebagai berikut,

  1. Menanamkan pendidikan mitigasi bencana erupsi dengan mengetahui tanda tanda gunung akan erupsi.
  2. Meningkatkan teknologi pengamatan gunungapi, seperti penambahan jumlah seismometer, dan instrumen lainnya
  3. Meningkatkan kualitas jalan dan jumlah armada angkutan saat evakuasi
  4. Memperbaiki sistem relokasi pengungsian warga, agar warga tidak kebingungan saat harus mengungsi
  5. Menyediakan rambu-rambu evakuasi bencana

Upaya mitigasi lainnya yang bisa dilakukan untuk emnghadapi bencana gempa bumi adalah dengan menanamkan pendidikan mitigasi ketika gempa terjadi, memasang jaringan seismometer yang lebih banyak, sehingga pengamatan kegempaan yang lebih bagus, dan jangka panjang nya adalah dengan memperhatikan konstruksi bangunan tahan gempa di pulau tersebut. Untuk bahaya longsor, upaya dengan menghindari daerah terjal dan pemasangan sensor pendeteksi longsor bisa menjadi senjata ampuh ketika gerakan tanah terjadi.

Pada akhirnya, dibalik satu kekayaan alam yang melimpah pada satu daerah, ada resiko yang mengancam dibaliknya. Hal ini adalah hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh kita sebagai manusia biasa dan yang dapat kita lakukan adalah dengan berlaku bijak memanfaatkan kekayaan alam yang disediakan dan bersikap tanggap ketika alam bergejolak. Dengan konsep ini, akan terwujud suatu keharmonisan hidup antara manusia dengan alam. Tak hanya di pulau Ternate, dengan bayang-bayang Gunungapi Gamalamanya, tetapi juga daerah potensial lainnya. Harmonislah dengan alam, dan alam akan berpihak padamu.

Referensi:

 

Hastin Chandra Diantari, Geofisika 2012

Leave a comment

Your email address will not be published.